MEDICAL FIESTA 2015

21 Oktober 2015 oleh :
Nama MEDICAL FIESTA 2015
Penyelenggara Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang
Tema “Holistic Approach to Pediatric Disorders”

 

Deskripsi Kegiatan ini adalah kegiatan yang merupakan kompetisi keilmiahan yang diadakan untuk menuangkan ide kreatif, inovatif dan solutifnya melalui berbagai ragam karya tulis. Karya tulis tersebut adalah Karya Tulis Ilmiah (KTI),  esai, poster populer, poster ilmiah, dan video melalui acara “Medical Fiesta 2015” yang bertema “Pediatric”, serta diakhiri dengan Seminar Internasional yang bertema “Emergency Pediatric”.
Waktu Kamis-Ahad, 22-25 Oktober 2015
Tempat Universitas Brawijaya Malang
Latar Belakang Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) anak berarti keturunan kedua. Anak merupakan keturunan yang akan meneruskan ke generasi berikutnya. Dalam fase hidup manusia fase anak-anak merupakan fase yang menentukan kualitas pertumbuhan dan perkembangan, fase yang menentukan seperti apa generasi bangsa akan tercipta baik atau kurang baik, atau justru tidak baik. Anak atau dalam dunia kedokteran disebut sebagai pediatric adalah fase rawan terhadap terjadinya penyakit dan tidak jarang penyakit yang berakhir kematian. Menurut UNICEF bahwa terdapat penurunan angka kematian anak di dunia dari 84 kematian per 1.000 kelahiran hidup menjadi 29 per 1.000 kelahiran hidup, Namun di luar kemajuan yang telah dicapai, antara 136.000 dan 190.000 anak meninggal di Indonesia setiap tahun sebelum usia lima tahun. Kebanyakan kasus meninggal disebabkan oleh penyakit-penyakit yang seharusnya bisa dicegah dan ditangani dengan mudah, seperti komplikasi pasca kelahiran, diare, atau pneumonia atau radang paru-paru.

Contoh kasus penyakit yang banyak menyerang anak di Indonesia yang dapat berujung kematian yaitu Demam Berdarah Dengue (DBD) secara medis disebut Dengue Haemorrhagic fever (DHF). Menurut WHO tahun 2010 Indonesia merupakan daerah endemik DBD. Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Virus ini akan mengganggu kinerja darah kapiler dan sistem pembekuan darah, sehingga mengakibatkan perdarahan-perdarahan.

Menurut WHO, sekitar 2,5-3 milyar manusia yang hidup di 112 negara tropis dan subtropis berada dalam keadaan terancam infeksi dengue. Setiap tahunnya sekitar 50-100 juta penderita dengue dan 500.000 penderita demam berdarah dengue dilaporkan oleh WHO di seluruh dunia, dengan jumlah kematian sekitar 22.000 jiwa, terutama anak-anak. Di Asia Tenggara DBD pada saat ini merupakan penyebab utama rawat inap di rumah sakit dan penyebab kematian tertinggi pada anak-anak. Indonesia menempati urutan tertinggi kasus DBD tahun 2010 di Asean, dengan jumlah kasus 156.086 dan kematian 1.358 orang. Pada kasus baru-baru ini pada Januari tahun 2015 ini terjadi peningkatan kasus DBD di Jawa Timur dari 980 kasus di bulan Januari 2014 meningkat 1817 kasus pada bulan Januari 2015. Kabupaten Sumenep menduduki peringkat tertinggi dengan 280 kasus DBD yang terjadi pada bulan Januari tahun 2015, namun itu melunjak hingga mencapai 409 kasus pada 4 Februari 2015 dan 4 anak meninggal karena DBD.

 

Dalam dunia medis hal ini merupakan masalah nasional, Indonesia sendiri merupakan daerah tropis yang tidak bisa lepas dari ancaman DBD. DBD sendiri seharusnya dapat dideteksi secara dini dan dapat ditangani sehingga tidak berujung kematian. Namun tidak semua masyarakat mengerti dan memahami gejala dan tanda-tanda DBD, karena gejala awal terinfeksi virus dengue ini mirip seperti gejala panas pada umumnya itu yang membuat masyarakat terkadang secara tidak sadar membiarkan gejala awal hingga mencapai derajat tingkat keparahan tertinggi dan menyebabkan penderita tidak tertolong. Ini yang menyebabkan tidak adanya prediksi yang tepat menentukan apakah penyakit ini berlangsung ringan atau berat. Hingga saat ini kegawatdaruratan penyakit DBD yang perlu di ketahui dan diwaspadai dini oleh masyarakat sehingga ini perlu adanya pendalaman pengetahuan terkait patologis penyakit dan penanganan dini terkait derajat tingkat keparahan penyakit ini.

 

WHO membagi 4 derajat berdasarkan tingkat keparahan penyakit Dengue Haemorrhagic fever. Derajat 1: Demam tinggi disertai gejala tidak khas seperti sakit kepala, nyeri retro orbital, mialgia, artralgia, manifestasi Perdarahan adalah uji torniquet.; Derajat 2: Seperti derajat 1, disertai perdarahan spontan di kulit (bintik-bintik merah) dan perdarahan lain; Derajat 3: Didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan Nadi menurun (20 mmHg atau kurang) atau hipotensi, sianosis disekitar mulut kulit dingin dan lembab, tampak gelisah; Derajat 4: Syok berat, nadi tidak dapat diraba dan tekanan darah tidak terukur. Pada derajat 3 dan 4 disebut sebagai Sindrom Syok Dengue (SSD). Oleh karena itu, perlu adanya penanganan yang cepat dan tepat terkait kegawatdaruratan syok yang terjadi. Sebagai salah satu upaya dari masalah tersebut dikembangkanlah pendidikan Emergency Medicine dimana di Indonesia masih merupakan ilmu yang dikategorikan baru dan berpotensi dapat dikembangkan.

 

Penyakit-penyakit lain yang tidak bersifat gawat darurat namun cukup pelik di bidang pediatric seperti Pneumonia, Epilepticus, Nutrisi tumbuh kembang, dan Sepsis tidak boleh luput dari perhatian kita. Oleh karena itu, diperlukan ide-ide yang solutif untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Mahasiswa mempunyai peranan dalam pengembangan ilmu pengetahuan melalui ide-ide inovatif. Utamanya mahasiswa kesehatan yang dapat membantu meningkatkan kualitas kesehatan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, kami mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya mengajak mahasiswa di seluruh Indonesia untuk menuangkan ide kreatif, inovatif dan solutifnya melalui karya tulis ilmiah, esai, poster populer, poster ilmiah, dan video melalui acara “Medical Fiesta 2015” yang bertema “Pediatric”, serta diakhiri dengan Seminar Internasional yang bertema “Emergency Pediatric”.